Postingan

Untuk Apa Aku Malu?

Aku tak pernah malu menulis puisi Profesi yang katanya tak berduit apalagi punya Ferrari Tak ada sama sekali dompet terisi Apalagi gelontoran rupiah hasil gratifikasi Sorry Tapi jangan salah persepsikan puisi Darinyalah maunya iblis direm dikendali Tak dilepas tangan bebas mencuri Tak dibiarkan jiwa dikotori Hanyalah pecundang yang maunya segala dituruti dipuasi Maka untuk apa aku malu? Akan terus kuteriakkan jiwa-jiwa bebal tak lagi tahu malu Akan kuhunus perlawanan seribu kata memburu Tak peduli dengan kalimat apa membawa mereka ke tengah pintu Pintu kesadaran dan pemaafan, atau pintu keserakahan dan perbudakan

Bukan Kunci Jawaban

Mencintai Tak pernah butuh sebuah alasan Tak pula sebuah penjelasan Sebab cinta bukan kunci jawaban Ia fitrah dari Tuhan

Tangis Hujan

Aku hanya butuh tangis hujan Tuk jelaskan apa yang tak mampu kuucapkan Cinta dan rindu yang datang bergantian

Siapa Yang Hendak Kautuduh Pencuri?

Haduuuh Ini negeri memang gaduh Negerinya para tikus perusuh Pantas saja rakyatnya hanya pesuruh Terus dicekoki kotoran politik yang keruh Mana berita mana bencana diaduk lalu disepuh Ada papa tikus minta saham Dijamin jalan mulus asal diam-diam Situ kasih roti isi, kami beri garansi Aman dan tenang-tenanglah selagi kami eksekusi Yang penting kau tambahlah lapar saldo kami Lalu apa kabar kontrak karya? Tiba-tiba hening dari santap berita Lalu datang membawa kabar petaka Bolehlah kalian berkuasa lebih lama di Papua Dengan seperangkat kesepakatan entah dari mana Di Ibu Kota banyak sekali pencuri Tak guna lagi tuk ditutup-tutupi Dagelan politik memang akan selalu jadi banci Bagi mereka yang datang membawa lancung janji Mencabik sumpah jabatan atas nama ilahi Lantas mengapa kuasa tambang di Papua tak juga kita sebut pencuri? Melubangi gunung-gunung rahim pertiwi Dengan tertawa lalu pergi Merampas harta paling kilau dari negeri Lalu siapa yang hendak kau tuduh ...