Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Latihan

Gambar
  Ada yang sahur di siang hari Terang dan sembunyi tiada permisi Ada yang mencekik rokok berkali-kali Asap tengil dihempas ke udara tinggi Tak kuasa jalani puasa penuh sehari Jadi manis kilah aneka alibi Terus berulang setiap hari Balada ramadhan di negeri ini Acapkali mengguratkan sketsa ironi Niat suci hanya singgah di lidah lalu pergi Meninggalkan legam catatan hati Masih nikmatkah kelak hari kemenangan? Bila melawan nafsu hanya sebatas latihan Rasa malu berulang diterabas tak berkesudahan Sementara iblis terpingkal menyaksikan di persembunyian                                Tangerang, 17 Maret 2024

Demi Langkah Putra Mahkota

Gambar
Drama itu bernama politik Seribu cara akan diracik Demi cerita bisa ditonton asik Meski hanya berisi culas intrik Melegalkan kuasa menista etik Mahkamah itu bernama konstitusi Sesuai pesanan ia bisa dijadikan kelinci Sebab konstitusi bukanlah kitab suci Relasi keluarga bisa ubah ayat dan pasal sesuka hati Demi langkah putra mahkota melenggang pasti Air mata itu bernama tangis Ibu Suri Moncong putih merasa dilukai dikhianati Petugas partai coba gunakan caranya sendiri Bermain api dan berjudi membangun dinasti Demi terpuaskan dahaga segala ambisi Dalang itu bernama Joko si lakon durhaka Ia datang dengan status bukan siapa-siapa Namun ingin menutup cerita dengan sempurna Meninggalkan singgasana dengan kerusakan gila Sungguh menohok logika Politik dan kekuasaan memang sadis Kawan dan lawan berjarak hanya selembar kertas tipis Tapi benarkah sudah tak ada lagi pemimpin idealis? Atau malah sudah saatnya petugas partai dan moncong putih terjerembap dan menangis? Habis!!!...

Perempuan Paruh Baya dan Asap Tengil Di Mulutnya

Gambar
Seorang perempuan paruh baya Duduk santai di bawah rindang dedaunan kelapa Di sela jari tangannya sebatang rokok terus menyala Sesekali dihisapnya, dibuanglah asap tengil ke udara Dua bocah kecil nan lugu berbisik dari telinga ke telinga Ditatapnya perempuan itu dengan wajah tak percaya Tak ditemukan pemandangan seperti itu di rumahnya Tak juga ada di pelajaran buku-buku sekolahnya Perempuan dengan kepul asap rokok di mulutnya Gado-gado pesanan telah selesai untuk dibawa Sembari menatap dua bocah yang masih ternganga Kuhempaskan senyum dan berdoa Semoga kelak kalian tak kehabisan cita-cita Bila esok tabu tak lagi ada Bagi perempuan dengan sebatang rokok dan asap tengil di mulutnya                                                                    Tangerang, 20 September 2017

Pendusta Agama

Al-Maa’uun 1/2/3/ Tengoklah itu para pendusta agama Gemar menumpuk harta namun lupa Kapan terakhir kali berbagi bahagia Sisihkan secuil saja apa yang dipunya Untuk mereka kaum tak berada Anak-anak yatim dan kaum miskin berwajah iba Yang terkadang pergi membawa ngiang ucap hardik tinggalkan luka 4/5/ Sungguh celaka orang-orang sholat itu Masih saja lalai menunda-nunda waktu Sementara Tuhannya terus merayu Dalam seruan kumandang adzan bersahut beradu 6/ Merekalah yang sedikit ibadah namun wah dibungkus riya’ Diberitakannya sujud dan doa di aneka sosial media Dibagikannya puja dan amal dalam foto penuh bangga Meski sejatinya hanya ilusi yang akan dibawa Tak pernah menjadi bekal apa-apa 7/ Masih pantaskah kita mendamba surga? Sementara memberi masih menderma sisa Menyisihkan apa yang tak lagi guna Sungguh celaka!                                                 Tangerang, S...

Rusaknya Bola Mata Keadilan

Gambar
  Dua orang lelaki Pergi meninggalkan misteri Menghilang selepas tragedi Di tengah subuh buta Air keras menghantam wajah penyidik KPK Rusaklah sebelah bola mata Dua tahun lebih tak diketahui Tak ada petunjuk atau secuil bukti Lenyap di belantara sunyi Seperti sebuah drama Dua orang lelaki ditangkap tiba-tiba Selepas Presiden beri tenggat waktu kali ketiga Menangkap teroris rupanya lebih mudah Dari menangkap kelinci-kelinci kecil si pemberi upah Nyaris tanpa jejak dan petunjuk arah Tapi alangkah celaka Dua tahun lebih pencarian lamanya Berakhir satu tahun saja vonis kurungan penjara Jaksa telah mengetuk palu Lagi-lagi nalar publik dibuat dungu Lewat sederet pertimbangan lucu Air keras mendarat di wajah tak sengaja Bukan penganiayaan berat terencana Akui perbuatan dan telah mengabdikan diri 10 tahun lamanya Bila kejahatan seperti melodrama Berujung putusan menohok logika Keadilan semakin tiarap Tersesat di jalan gelap Novel Baswedan Adalah satu dari sekian Ironi tak berkesudahan Beta...

I and Love Poems I Read to Patter of Morning Dew

Gambar
I am Not budge behind the dark cliffs imprison the night Waiting the light tear down fallen star between moon gaze I contemplated back worn out manuscripts of Lord were scattered On the arrogant walls of the world and the theatrical of devotee of the relative paradise And along with quiet was increasingly rising Stabbing my longs chanting traces of taste in your heart niche Increasingly deep,  Increasing I could not get your love's lake place Inundate the hope despite all just present silence Melting to be struck the color of the day without light And your heart did not like transparent of my heart   I have long been intoxicated your love's wine To poison the mystery of soul and mute fragment among us Suffice love poems that i have Explain the verse of taste, settle tired of soul I would read to patter of dew in the morning In drizzle of rain and rainbow arch Or dense clouds that were quickly marching away And love,  Maybe it's ju...

Lelaki yang Membawa Mimpi ditengah Pandemi

Gambar
Lelaki itu bernama Dimas Tetap berangkat bukan untuk mencari emas Pagi hari ke sekolah ia bergegas Menjemput ilmu yang tak didapatkannya Dari ruang internet sungguh bernilai hampa Bagi garis hidup belum berpihak baik padanya Di sekolah ia hanya disambut kepala sekolah dan guru Tak ada kawan-kawan biasa membawa haru biru Sendiri berteman papan tulis dan buku-buku Rupanya pandemi menyisakan pilu Bagi banyak mereka yang tak mampu Dengan tabah harus memeras rindu Hanya bisa menikmati pendidikan lewat sebuah temu Ayahnya hanya seorang nelayan Ibunya buruh pengering ikan Gawai dan kuota terlampau mahal dibelikan Seliter beras lebih berharga di hadapan Melewati pelik masa pandemi entah sampai kapan Corona memang memaksa sebuah keadaan Aturan-aturan baru ikut diberlakukan Tapi pendidikan tak seharusnya menjadi ironi tragedi Bagi mereka yang datang membawa mimpi-mimpi #AnakHebat #DimasIbnuAlias

Corona Virus III

Tempo hari berapi ucap ‘perang lawan Corona’ Kemarin mengajak ‘berdamai dengan Corona’ Tempo hari bilang ‘jangan mudik, di rumah saja’ dengan PeDe Kemarin berkata ‘tengah menyiapkan pelonggaran PSBB’ Rakyat bingung Kepala Negara linglung Setiap hari kasus terus menggunung Tapi kebijakan mudah sekali limbung Seperti tak tahu hendak kemana semua berujung Corona tak terlihat mata Menggelisahkan orang dimana-mana Kebijakan sering berubah seketika Merisaukan semua Hingga mungkin mulai tak dipercaya Tak peduli segala imbauan di depan mata Di Soetta berdesak manusia Hilang Physical Distancing Di Sarinah tumpah manusia Lenyap Social Distancing Coba menghitung kancing Kapan angka kasus baru menukik hening Tapi cicak-cicak di dinding Malah tertawa terkencing-kencing Bila aturan sungguh membingungkan Bila kedisiplinan sulit ditegakkan Beradu dalam ruang pandemi kepanikan Kesalahan demi kesalahan Hanya menambah angka tak berkesudahan ...

Corona Virus II

Negara nampak tidak waspada Beberapa kasus santai saja Puluhan kasus tenang saja Ratusan kasus mulai buka mata Puluhan ribu kasus seperti terlambat semua cara Sebab Corona PHK menggurita Kejahatan merajalela Pendidikan tertunda Keluarga kian aksa Dicekal tetap di rumah saja Masalah baru sungguh datang tak disangka Rumah-rumah suci Mulai menyimpan iri Pada pasar sayuran dan sembako pagi hari Pada pasar tumpah sore hari Tetap ramai dikunjungi Sementara shaf-shaf perlahan sepi Meski seruan silih berganti Duhai nona Corona Bila engkau adalah sebentuk ujian nyata Maka biarkan sejenak manusia henti dari segala Dunia tak lain hanyalah dusta Pada-Nya kembali segala puja-puji dan doa Kekacauan kiranya lekas Ia ganti kemenangan nyata Bahagia semesta raya Tangerang, 14 Mei 2020

Corona Virus I

Dunia jungkir balik Makhluk kecil berlagak tengik Menjelma pandemik Menebar panik Rumah-rumah suci Berkawan sepi Tubuh-tubuh menepi Memilih kembali Tak ada pesta pora Tak pula sepakbola Seluruh mata semua berita Laris menjual Corona Dunia jungkir balik Makhluk kecil kian berlagak tengik Menjelma Psikosomatik Menebar toksik Istana-istana belanja Beranjak sunyi tanpa sisa Bukan sedang hari raya Tapi hari sedang bahaya Tak guna obral harga Tak pula diskon manja Isi kantong mendadak hanya tergoda Pada hand sanitizer dan masker di muka Hai nona Corona Tetaplah menjauh di sana Jangan coba-coba mendekat Kau dan aku bukan 'muhrim', bukan pula sahabat                                                  ...

SARI ROTI - Mendadak Selebriti

Gambar
  Aku tak lebih tertarik dari segelas kopi Meski saat ini roti tengah menjadi selebriti Sebab terpelesetnya redaksi yang lantas dihabisi Hujan hujatan, boikot bahkan serapah caci maki Ditenggelamkan emosi sejak nalar dicekoki agitasi Ayolah Tempe tahu lebih nikmat di lidah Dan kebencian tak seharusnya mendidih di kepala Menjadikanmu lupa menempatkan Tuhan di bibir sangka Dikerangkeng curiga dan lidah yang sungguh berbahaya                                                        Tangerang, Ruang Imaji, 07-12-2016

Untuk Apa Aku Malu?

Aku tak pernah malu menulis puisi Profesi yang katanya tak berduit apalagi punya Ferrari Tak ada sama sekali dompet terisi Apalagi gelontoran rupiah hasil gratifikasi Sorry Tapi jangan salah persepsikan puisi Darinyalah maunya iblis direm dikendali Tak dilepas tangan bebas mencuri Tak dibiarkan jiwa dikotori Hanyalah pecundang yang maunya segala dituruti dipuasi Maka untuk apa aku malu? Akan terus kuteriakkan jiwa-jiwa bebal tak lagi tahu malu Akan kuhunus perlawanan seribu kata memburu Tak peduli dengan kalimat apa membawa mereka ke tengah pintu Pintu kesadaran dan pemaafan, atau pintu keserakahan dan perbudakan

Bukan Kunci Jawaban

Mencintai Tak pernah butuh sebuah alasan Tak pula sebuah penjelasan Sebab cinta bukan kunci jawaban Ia fitrah dari Tuhan

Tangis Hujan

Aku hanya butuh tangis hujan Tuk jelaskan apa yang tak mampu kuucapkan Cinta dan rindu yang datang bergantian

Siapa Yang Hendak Kautuduh Pencuri?

Haduuuh Ini negeri memang gaduh Negerinya para tikus perusuh Pantas saja rakyatnya hanya pesuruh Terus dicekoki kotoran politik yang keruh Mana berita mana bencana diaduk lalu disepuh Ada papa tikus minta saham Dijamin jalan mulus asal diam-diam Situ kasih roti isi, kami beri garansi Aman dan tenang-tenanglah selagi kami eksekusi Yang penting kau tambahlah lapar saldo kami Lalu apa kabar kontrak karya? Tiba-tiba hening dari santap berita Lalu datang membawa kabar petaka Bolehlah kalian berkuasa lebih lama di Papua Dengan seperangkat kesepakatan entah dari mana Di Ibu Kota banyak sekali pencuri Tak guna lagi tuk ditutup-tutupi Dagelan politik memang akan selalu jadi banci Bagi mereka yang datang membawa lancung janji Mencabik sumpah jabatan atas nama ilahi Lantas mengapa kuasa tambang di Papua tak juga kita sebut pencuri? Melubangi gunung-gunung rahim pertiwi Dengan tertawa lalu pergi Merampas harta paling kilau dari negeri Lalu siapa yang hendak kau tuduh ...

Dear Ken

Kau terlahir dari kepasrahan Yang mengular berbulan-bulan Dalam tunduk doa-doa kepada Tuhan Mengiba riang si kecil dalam dekap kecintaan Kau tercipta dari kemurahan Yang Ia beri di tengah penantian Meski di lain cerita ada tabah memilukan Berkali mencoba mengetuk rajuk Tuhan Namun takdir belum jua bawa setangkai senyuman Kau adalah ritmis kesyukuran Yang mengudara bersama bait puja-puji di kesunyian Sebab cinta telah Ia labuhkan Sebab amanah telah Ia sematkan Pada kelindan kasih tuk rengkuh ridha-Nya Pada langkah pijak tuk gapai surga-Nya Semoga . . .

Ingin Menciummu, Nak

Pada hujan yang genit malam ini Mengapa kau menggodaku lamat-lamat Aku tak ingin perjumpaan menelan kesendirian Sebab atma masih kutinggal jauh bersama benih kerinduan Meski sementara saja harus kutaklukkan Bentang jarak yang menyakitkan Oh, tidak Betapa lesung pipitmu menerorku Mengajakku melangut ingin menciummu Sepuas aku Hingga kudengar kembali tangismu Dalam peluk timang-timang redakan teriakmu  

Ada Yang Masih Harus Kudaki

Duhai hujan Yang membawa serdadu berjuta ribu Pantas saja aku tak berlari terburu Melihat jatuhmu di jalan tak berbatu Di tanah sawah yang mendenguskan napas rindu Rupanya telah lama aku tak menikmati Tarikan belut di dalam lubangnya sendiri Melawan tipu daya diumpan cacing lugu Hingga menyerah keluar ia membawa malu Menelan kail umpan yang tak lagi nikmat diburu Ah, di ibu kota tak kutemukan alam yang jenaka Bermain dengan suara angin mengibas raga Berjingkat kaki di tengah sawah yang basah Sembari menunggu sore bawakan senja merah Bersama kumandang adzan dari segala arah Ah, rupanya esok aku harus kembali Ke kota kelahiranku yang masih tak terganti Sebab di sana ada mimpi-mimpi Yang masih harus kudaki Akan kutinggalkan kuncup rindu di sini Sebagai bekal esok kukembali

Nyanyian Pengamen Perempuan

Bahasamu saja aku tak mengerti Sementara lagu terus saja kau beri Dengan volume terus meninggi Kau tandu iba di sebalik malu dalam hati Sebelum pergi membawa kotak bising Seperti biasa kau berputar keliling Mengiba rupiah dari tangan-tangan kering Yang memberimu sejumput rekah senyum hening Kau sendiri Dari bus ke bus kau berlari Membawa takdir hidup yang terus membuntuti Meski tak pernah tahu di mana ajal kan kau temui

Namamu Dalam Takdirku

Kau tak harus membenci masa lalu Yang sembunyikan tangismu di langit kelabu Sebab lembut gerimis tak pernah tahu Betapa pernah kau mencintaiku segenap rindu Meski lauh al mahfuzh tak memahat namamu dalam takdirku