Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tulisan Bebas

Demi Langkah Putra Mahkota

Gambar
Drama itu bernama politik Seribu cara akan diracik Demi cerita bisa ditonton asik Meski hanya berisi culas intrik Melegalkan kuasa menista etik Mahkamah itu bernama konstitusi Sesuai pesanan ia bisa dijadikan kelinci Sebab konstitusi bukanlah kitab suci Relasi keluarga bisa ubah ayat dan pasal sesuka hati Demi langkah putra mahkota melenggang pasti Air mata itu bernama tangis Ibu Suri Moncong putih merasa dilukai dikhianati Petugas partai coba gunakan caranya sendiri Bermain api dan berjudi membangun dinasti Demi terpuaskan dahaga segala ambisi Dalang itu bernama Joko si lakon durhaka Ia datang dengan status bukan siapa-siapa Namun ingin menutup cerita dengan sempurna Meninggalkan singgasana dengan kerusakan gila Sungguh menohok logika Politik dan kekuasaan memang sadis Kawan dan lawan berjarak hanya selembar kertas tipis Tapi benarkah sudah tak ada lagi pemimpin idealis? Atau malah sudah saatnya petugas partai dan moncong putih terjerembap dan menangis? Habis!!!...

Anak Indonesia Itu Hebat!

Gambar
19 Agustus 2017, Lebak-Banten —True story— Siang itu, selepas perjalanan jauh naik turun bukit, masuk ke desa-desa yang menguras fisik untuk menemani keluarga bertandang ke rumah calon besan dari adik, tepatnya di kampung Cikaak, Desa Giriharja, Lebak-Banten, saya duduk-duduk sambil ngemong jagoan di warung kecil milik si calon besan. Kebetulan tutup warungnya. Entah tutup karena hari sabtu, atau memang penghormatan pada rombongan tamu yang hadir ke rumahnya. Yang tetap dilayani adalah jual beli bensin dalam bentuk Pertamini. Karena memang cuacanya yang terik di siang bolong, jadilah saya memilih berteduh di warung itu, selain karena alasan kesehatan untuk jagoan kecil, sebab dua keluarga yang sedang berkumpul di rumah calon besan itu sedang terlibat perkelahian sengit. Tepatnya perkelahian asap rokok dari banyak individu yang sedang berbincang santai di dalam ruangan utama, alhasil penuh sesaklah ruangan itu oleh asap putih makhluk halus bergentayangan. Karena saya bukan perokok, dan...

Yang Terserak Hilang Jejak

Gambar
Dalam perjalanannya, bisa dikatakan menulis tak pernah menjadi pekerjaan yang mudah. Selalu ada pengalaman dan rintangannya sendiri. Selalu ada liku, duka, dan kesenangannya sendiri. Tapi di sanalah letak asyiknya menjadi seorang penulis. Selalu ada ruang yang begitu besar untuk terus belajar, menjadi diri sendiri, berani menuangkan ide, menawarkan gagasan pun memberikan warna yang berbeda. Saya sendiri dalam perjalanan panjang kepenulisan lebih banyak belajar secara otodidak. Mulai serius mendalami sastra puisi sejak di dunia perkuliahan, tepatnya sejak aktif di organisasi ekstra kampus IMM Ciputat. Meski bertumbuh di lingkungan yang kental dengan dunia menulis dan literasi, serta dibekali jejak para senior dan kawan yang sangat produktif menulis di media massa, tapi saya akhirnya lebih memilih jalan sunyi. Banyak membekali diri dari buku-buku sastra yang dibaca, baik cerpen, novel, fabel, maupun puisi. Tapi tentu tak hanya buku sastra, buku dengan topik sains, sosial, budaya, sampai...

Kita Pernah Menjadi Juara (Sebuah Kisah)

Gambar
Keterangan gambar (fokus pada yang memakai rompi), kiri ke kanan: Bawah: Meidi Chandra - Fijar Fauzi - Rully Firmansyah - Didin - Ilham Badawi - M. Syahril Atas: Maman - Iqro Zain al Muttaqien 2017 How can we become the winner? Berikut ulasan lengkapnya   Let’s check it out Road to be the winner 1/ PPPA TIM A vs PU (Perdelapan Final) (Skor : menang WO, sebab tim lawan tak hadir saat pertandingan) 2/ PPPA TIM A vs ME dan OB (Perempat Final) (Skor : 5 – 2) 3/ PPPA TIM A vs SDQI Bandung (Semi Final) (Skor : 4 – 1) 4/ PPPA TIM A vs Shigor Putra (Final) (Skor : 5 – 3) Easy like that? Of course not! Ada jalan proses dan panjang yang harus dilalui sebelum kami bisa mengkalim diri menjadi juara dan menahbiskan diri sebagai tim terbaik dalam turnamen futsal edisi tahun 2017 kala itu. Berawal dari kegagalan demi kegagalan dalam dua kali kesempatan sebelumnya dan harus puas menyandang predikat sebagai spesialis runner up, di tahun itu saya diberi tanggung jawab untuk membentuk tim futsal ...

Chairil Anwar dalam Sebuah Catatan Asrul Sani (Sahabat sekaligus Penyair)

Gambar
  Pertama kali saya be rtemu Chairil Anwar di Pasar Senen waktu zaman Jepang, ketika itu dia masih bercelana pendek dan dan saya juga. Kami berjumpa di sebuah toko buku bekas, kini tak ada lagi karena telah rata dengan jalan raya. Di sana langganan kami menjual buku yang tak dibaca lagi, sekaligus tempat berburu buku-buku loak yang mungkin menarik untuk dibaca. Bahrun Rangkuti, seorang mahasiswa sastra pernah meminjami sajak-sajak Chairil. Judul sajak-sajak ketikan itu 'Deru Campur Debu'. Dalam pertemuan pertama itu Chairil tampak sangat lusuh, wajahnya kotor, bajunya kumal, matanya merah. Kelihatan tipenya pelahap buku. Saya menegurnya. Serta merta dia menjawab, "Kau suka baca juga, ya? Kau suka sajak? Mana sajakmu?" Waktu itu kebetulan saya bawa, dan saya berikan padanya. Chairil merasa bahwa di antara kami ada kesamaan dan kedekakatan, dalam hubungannya dengan Pujangga Baru dan sastra modern. Kami jadi akrab. Di Jalan Juanda dulu ada dua toko buku. Toko buku Va...

Menunggu Imam

 20 Mei 2017 (True Story) Alkisah. Tadi sore dalam perjalanan pulang pasca tugas piket di kantor. Karena perjalanan pulang dari Ciledug menuju Cikupa butuh waktu lebih dari 1 jam, dan karena tadi baru pulang dari kantor jam 17:30, sampailah saya di setengah perjalanan. Tepatnya daerah Jati. Jam sudah menunjukkan pukul 18:07, sudah maghrib rupanya. Bimbang, melanjutkan perjalanan dengan konsekuensi memacu gas motor lebih gesit agar tiba di rumah maksimal Pkl 18:30 (sangat telat shalat maghrib), atau singgah sejenak di musholla. Tik, tak. Tik, tak. Akhirnya diambil keputusan untuk sholat maghrib sebelum melanjutkan perjalanan. Melipirlah si tangguh Mega Pro di SPBU. Ternyata mushollanya sudah penuh oleh jamaah maghrib yang juga singgah sejenak di sana. Segera lepas alas kaki untuk ambil wudhu, di depan saya ada satu orang yang lebih dahulu berjalan di depan mengambil wudhu. Ada satu orang sudah berdiri di luar pintu musholla, sepintas diamati bermata agak sipit berkulit lumayan cokel...

Loe Gue, Friend!

Gambar
  Kata orang/sahabat lainnya, kita berdua seperti sepasang sayap. Hilang satu, apalah guna tubuh tanpa kepak sayap lainnya. Di kesempatan lainnya ada pula yang bilang, kita ini seperti bumi dan langit. 'Gue' tinggi, 'Loe'?. Ga sepadan. Tapi uniknya, terlepas dari kacamata kekurangan dan kelebihan, kita adalah sahabat seperjuangan yang tak terpisahkan. Dipertemukan di arena kampus intelek (UIN Jakarta) tahun 2004 lewat sebuah organisasi IMM Ciputat yang kental dengan tradisi dan prestasi. Maka jangan tanya, kenapa kita masih terus merindukan tanah Ciputat sebagai rumah kedua. Tempat dimana otak dibedah dan diolah laiknya siswa bergelar maha (mahasiswa). Bukan lagi mahasiswa biasa yang datang dan pergi 'ngampus' tanpa value added di otak, etos, dan mental di masyarakat. Ya, sedikit banyak, sahabat saya yang satu inilah yang banyak membantu membuka nalar di kepala tentang pentingnya menjadi mahasiswa yang tak bangga menyandang gelar mahasiswa biasa-biasa saja. Tapi...

Ketika Zero Power (Sabar-Pasrah) Ia Ganti dengan Bidadari Malam

Gambar
  05-01-2017 - True Story - Alkisah, seminggu yang lalu, tepatnya di hari senin, jam sudah menunjukkan lampu kuning, maka segera setelah motor dinyalakan, langsung ngacir mengejar waktu masuk kantor agar tak telat parah sampai di kantor. Berangkatlah saya dengan tergesa sembari mengucap doa agar selamat di perjalanan. Sekilas melirik indikator bensin di motor, 'ah, masih dua strip. Sepertinya masih cukup untuk perjalanan pergi-pulang kantor. 'Lho, kok tinggal dua strip?' Sebab baru malam sebelumnya tangki motor diminumi bensin hingga tiga strip. 'Mungkin sempat digunakan adikku tadi malam, paling hanya terpakai sedikit saja,' pikirku. Bismillah, alhamdulillah tiba di kantor dengan selamat. Lumayan kepikiran di perjalanan Cikupa-Ciledug. Sekali lagi melirik indikator bensin, masih dua strip ternyata. 'Ah, aman.' Di waktu jeda istirahat kantor, iseng coba-coba cek isi tas dan dompet. What? Rupanya tak ada uang di sana. Hanya ada beberapa logam ...

Dia Bukan Badut

Gambar
  Alkisah. Semalam, sekitar pukul 21:30 dalam perjalanan mengendarai kuda besi sehabis latihan futsal, di perjalanan pulang saya tak sengaja bertemu dengan badut (orang yang memakai pakaian ala badut) sedang berjalan dari arah bundaran 3 Citra Raya menuju ke depan, mungkin ke arah gerbang. Sontak saja ingatan saya langsung tertuju pada jagoan saya Ken, yang saat ini sedang berada di kampung. Ya, jagoan saya yang pertama itu sangat takut jika bertemu badut, diajak kenalan dan bersalaman pun dia enggan, malah teriak ‘jangan!’. Karena ingin menggoda sekaligus menciptakan kesan bahwa badut adalah teman, manusia biasa seperti kebanyakan, yang lucu sekaligus menghibur dan tidak menakutkan, akhirnya saya kepikiran ide ingin mengajak badut itu berfoto bersama untuk dikirimkan via Whatsapp. Karena sudah terlanjur melewati badut tersebut, akhirnya saya putar balik mendekati dan menunggu beberapa meter di depan jalur dia berjalan kaki. Setelah jaraknya dekat, badut itu saya panggil: “Bang,...

Kita Adalah Sejuta Cerita

Gambar
Pernah ada sebuah ungkapan di tengah-tengah persinggungan antargenerasi yang mengatakan bahwa: “generasi 90an adalah generasi paling emas dan bahagia”. Bagi sebagian generasi yang lahir dan besar setelah era 90an, ungkapan itu tentu keliru. Mereka beranggapan bahwa generasi paling berbahagia adalah generasi 2000an atau generasi milenial, sebab di era tersebut segalanya mudah sekali didapatkan. Mulai dari akses pendidikan yang lebih mudah, lengkap dengan aneka peralatan pendukungnya, akses internet, telepon pintar (Hp), infrastruktur teknologi, bahkan digitalisasi transfer ilmu. Tetapi saya tentu merupakan satu dari sekian banyak orang yang masih menyepakati bahwa  generasi yang tumbuh di era 90an adalah generasi emas terbaik, bahkan paling berbahagia. Apa sebab? Check this out. ·          Sekolah Tanpa Hp Bisakah kawan sekalian membayangkan generasi saat ini hidup tanpa alat bantu berukuran kecil yang lekat di tangan dan selalu setia dipandan...