Postingan

I and Love Poems I Read to Patter of Morning Dew

Gambar
I am Not budge behind the dark cliffs imprison the night Waiting the light tear down fallen star between moon gaze I contemplated back worn out manuscripts of Lord were scattered On the arrogant walls of the world and the theatrical of devotee of the relative paradise And along with quiet was increasingly rising Stabbing my longs chanting traces of taste in your heart niche Increasingly deep,  Increasing I could not get your love's lake place Inundate the hope despite all just present silence Melting to be struck the color of the day without light And your heart did not like transparent of my heart   I have long been intoxicated your love's wine To poison the mystery of soul and mute fragment among us Suffice love poems that i have Explain the verse of taste, settle tired of soul I would read to patter of dew in the morning In drizzle of rain and rainbow arch Or dense clouds that were quickly marching away And love,  Maybe it's ju...

Kita Adalah Sejuta Cerita

Gambar
Pernah ada sebuah ungkapan di tengah-tengah persinggungan antargenerasi yang mengatakan bahwa: “generasi 90an adalah generasi paling emas dan bahagia”. Bagi sebagian generasi yang lahir dan besar setelah era 90an, ungkapan itu tentu keliru. Mereka beranggapan bahwa generasi paling berbahagia adalah generasi 2000an atau generasi milenial, sebab di era tersebut segalanya mudah sekali didapatkan. Mulai dari akses pendidikan yang lebih mudah, lengkap dengan aneka peralatan pendukungnya, akses internet, telepon pintar (Hp), infrastruktur teknologi, bahkan digitalisasi transfer ilmu. Tetapi saya tentu merupakan satu dari sekian banyak orang yang masih menyepakati bahwa  generasi yang tumbuh di era 90an adalah generasi emas terbaik, bahkan paling berbahagia. Apa sebab? Check this out. ·          Sekolah Tanpa Hp Bisakah kawan sekalian membayangkan generasi saat ini hidup tanpa alat bantu berukuran kecil yang lekat di tangan dan selalu setia dipandan...

Lelaki yang Membawa Mimpi ditengah Pandemi

Gambar
Lelaki itu bernama Dimas Tetap berangkat bukan untuk mencari emas Pagi hari ke sekolah ia bergegas Menjemput ilmu yang tak didapatkannya Dari ruang internet sungguh bernilai hampa Bagi garis hidup belum berpihak baik padanya Di sekolah ia hanya disambut kepala sekolah dan guru Tak ada kawan-kawan biasa membawa haru biru Sendiri berteman papan tulis dan buku-buku Rupanya pandemi menyisakan pilu Bagi banyak mereka yang tak mampu Dengan tabah harus memeras rindu Hanya bisa menikmati pendidikan lewat sebuah temu Ayahnya hanya seorang nelayan Ibunya buruh pengering ikan Gawai dan kuota terlampau mahal dibelikan Seliter beras lebih berharga di hadapan Melewati pelik masa pandemi entah sampai kapan Corona memang memaksa sebuah keadaan Aturan-aturan baru ikut diberlakukan Tapi pendidikan tak seharusnya menjadi ironi tragedi Bagi mereka yang datang membawa mimpi-mimpi #AnakHebat #DimasIbnuAlias

Corona Virus III

Tempo hari berapi ucap ‘perang lawan Corona’ Kemarin mengajak ‘berdamai dengan Corona’ Tempo hari bilang ‘jangan mudik, di rumah saja’ dengan PeDe Kemarin berkata ‘tengah menyiapkan pelonggaran PSBB’ Rakyat bingung Kepala Negara linglung Setiap hari kasus terus menggunung Tapi kebijakan mudah sekali limbung Seperti tak tahu hendak kemana semua berujung Corona tak terlihat mata Menggelisahkan orang dimana-mana Kebijakan sering berubah seketika Merisaukan semua Hingga mungkin mulai tak dipercaya Tak peduli segala imbauan di depan mata Di Soetta berdesak manusia Hilang Physical Distancing Di Sarinah tumpah manusia Lenyap Social Distancing Coba menghitung kancing Kapan angka kasus baru menukik hening Tapi cicak-cicak di dinding Malah tertawa terkencing-kencing Bila aturan sungguh membingungkan Bila kedisiplinan sulit ditegakkan Beradu dalam ruang pandemi kepanikan Kesalahan demi kesalahan Hanya menambah angka tak berkesudahan ...