Lelaki itu bernama Dimas Tetap berangkat bukan untuk mencari emas Pagi hari ke sekolah ia bergegas Menjemput ilmu yang tak didapatkannya Dari ruang internet sungguh bernilai hampa Bagi garis hidup belum berpihak baik padanya Di sekolah ia hanya disambut kepala sekolah dan guru Tak ada kawan-kawan biasa membawa haru biru Sendiri berteman papan tulis dan buku-buku Rupanya pandemi menyisakan pilu Bagi banyak mereka yang tak mampu Dengan tabah harus memeras rindu Hanya bisa menikmati pendidikan lewat sebuah temu Ayahnya hanya seorang nelayan Ibunya buruh pengering ikan Gawai dan kuota terlampau mahal dibelikan Seliter beras lebih berharga di hadapan Melewati pelik masa pandemi entah sampai kapan Corona memang memaksa sebuah keadaan Aturan-aturan baru ikut diberlakukan Tapi pendidikan tak seharusnya menjadi ironi tragedi Bagi mereka yang datang membawa mimpi-mimpi #AnakHebat #DimasIbnuAlias
Mahasiswa adalah sejarah Yang terberai terpenjara di ubun-ubun Tak lagi mampu mengeluarkan isi kepala tersebab pikun Lupa pada arti darah cita dan geliat tekun Lupa pada jati diri yang menghilang di ayun-ayun Mahasiswa adalah nisan Tak beranjak dari diam yang merajam Tak bergerak dari malas yang mengganas Lumpuh tanpa kreasi dan kebanggan diri Tumbang tanpa keberanian melahap mimpi Mahasiswa adalah cibir Terdampar di rimba masa lalu yang kini tinggal lendir Hanya jadi cerita manis di antara ironi menggunung pasir Terkapar lembar-lembar matematis yang memenjara pikir Dan prestasi kian karam dan sumir Mahasiswa adalah catatan Selayaknya menjadi renung panjang pergulatan Menata kembali prasasti mimpi yang berserakan Membawa segenap senyum ke ruang baca dan kebanggaan Tentang kisahmu yang tangguh menyusuri ombak peradaban
Sebut saja ia ‘Mang Aca’, lelaki yang usianya sudah melebihi paruh baya. Ia adalah seorang pedagang sate. Eh, maaf, satai maksudnya. Bisa dijewer saya nanti oleh Ivan Lanin (penulis buku Recehan Bahasa). Sebab dalam KBBI, sate bukanlah bahasa baku, melainkan yang benar adalah satai. Mungkin karena satai sudah sangat identik dan khas dengan Madura. Sehingga umumnya masyarakat lebih familiar dengan sebutan ‘sate’. Bahkan ada saja guyonan yang kemudian diplesetkan jadi ‘te sate’ meniru cara berbicara logat Madura. Entahlah. Kembali lagi ke ‘Mang Aca’. Yup, Mang Aca ini asli orang Karawang (USA), beliau sudah berdagang satai ayam beserta lontong sedari usia muda. Mungkin sudah lebih dari 30 tahun lamanya. Itu terungkap saat kami berbincang ringan pada suatu malam kala saya menunggu satai pesanan saya sedang diproses. “Mang, jualan sate dari kapan emang?” Tanya saya kala itu mengawali obrolan “Wah. Dari masih muda juga udah jualan.” “Udah berapa puluh tahun sampe sekarang?” ...
Komentar
Posting Komentar