Postingan

Kita Pernah Menjadi Juara (Sebuah Kisah)

Gambar
Keterangan gambar (fokus pada yang memakai rompi), kiri ke kanan: Bawah: Meidi Chandra - Fijar Fauzi - Rully Firmansyah - Didin - Ilham Badawi - M. Syahril Atas: Maman - Iqro Zain al Muttaqien 2017 How can we become the winner? Berikut ulasan lengkapnya   Let’s check it out Road to be the winner 1/ PPPA TIM A vs PU (Perdelapan Final) (Skor : menang WO, sebab tim lawan tak hadir saat pertandingan) 2/ PPPA TIM A vs ME dan OB (Perempat Final) (Skor : 5 – 2) 3/ PPPA TIM A vs SDQI Bandung (Semi Final) (Skor : 4 – 1) 4/ PPPA TIM A vs Shigor Putra (Final) (Skor : 5 – 3) Easy like that? Of course not! Ada jalan proses dan panjang yang harus dilalui sebelum kami bisa mengkalim diri menjadi juara dan menahbiskan diri sebagai tim terbaik dalam turnamen futsal edisi tahun 2017 kala itu. Berawal dari kegagalan demi kegagalan dalam dua kali kesempatan sebelumnya dan harus puas menyandang predikat sebagai spesialis runner up, di tahun itu saya diberi tanggung jawab untuk membentuk tim futsal ...

Chairil Anwar dalam Sebuah Catatan Asrul Sani (Sahabat sekaligus Penyair)

Gambar
  Pertama kali saya be rtemu Chairil Anwar di Pasar Senen waktu zaman Jepang, ketika itu dia masih bercelana pendek dan dan saya juga. Kami berjumpa di sebuah toko buku bekas, kini tak ada lagi karena telah rata dengan jalan raya. Di sana langganan kami menjual buku yang tak dibaca lagi, sekaligus tempat berburu buku-buku loak yang mungkin menarik untuk dibaca. Bahrun Rangkuti, seorang mahasiswa sastra pernah meminjami sajak-sajak Chairil. Judul sajak-sajak ketikan itu 'Deru Campur Debu'. Dalam pertemuan pertama itu Chairil tampak sangat lusuh, wajahnya kotor, bajunya kumal, matanya merah. Kelihatan tipenya pelahap buku. Saya menegurnya. Serta merta dia menjawab, "Kau suka baca juga, ya? Kau suka sajak? Mana sajakmu?" Waktu itu kebetulan saya bawa, dan saya berikan padanya. Chairil merasa bahwa di antara kami ada kesamaan dan kedekakatan, dalam hubungannya dengan Pujangga Baru dan sastra modern. Kami jadi akrab. Di Jalan Juanda dulu ada dua toko buku. Toko buku Va...

Menunggu Imam

 20 Mei 2017 (True Story) Alkisah. Tadi sore dalam perjalanan pulang pasca tugas piket di kantor. Karena perjalanan pulang dari Ciledug menuju Cikupa butuh waktu lebih dari 1 jam, dan karena tadi baru pulang dari kantor jam 17:30, sampailah saya di setengah perjalanan. Tepatnya daerah Jati. Jam sudah menunjukkan pukul 18:07, sudah maghrib rupanya. Bimbang, melanjutkan perjalanan dengan konsekuensi memacu gas motor lebih gesit agar tiba di rumah maksimal Pkl 18:30 (sangat telat shalat maghrib), atau singgah sejenak di musholla. Tik, tak. Tik, tak. Akhirnya diambil keputusan untuk sholat maghrib sebelum melanjutkan perjalanan. Melipirlah si tangguh Mega Pro di SPBU. Ternyata mushollanya sudah penuh oleh jamaah maghrib yang juga singgah sejenak di sana. Segera lepas alas kaki untuk ambil wudhu, di depan saya ada satu orang yang lebih dahulu berjalan di depan mengambil wudhu. Ada satu orang sudah berdiri di luar pintu musholla, sepintas diamati bermata agak sipit berkulit lumayan cokel...

Loe Gue, Friend!

Gambar
  Kata orang/sahabat lainnya, kita berdua seperti sepasang sayap. Hilang satu, apalah guna tubuh tanpa kepak sayap lainnya. Di kesempatan lainnya ada pula yang bilang, kita ini seperti bumi dan langit. 'Gue' tinggi, 'Loe'?. Ga sepadan. Tapi uniknya, terlepas dari kacamata kekurangan dan kelebihan, kita adalah sahabat seperjuangan yang tak terpisahkan. Dipertemukan di arena kampus intelek (UIN Jakarta) tahun 2004 lewat sebuah organisasi IMM Ciputat yang kental dengan tradisi dan prestasi. Maka jangan tanya, kenapa kita masih terus merindukan tanah Ciputat sebagai rumah kedua. Tempat dimana otak dibedah dan diolah laiknya siswa bergelar maha (mahasiswa). Bukan lagi mahasiswa biasa yang datang dan pergi 'ngampus' tanpa value added di otak, etos, dan mental di masyarakat. Ya, sedikit banyak, sahabat saya yang satu inilah yang banyak membantu membuka nalar di kepala tentang pentingnya menjadi mahasiswa yang tak bangga menyandang gelar mahasiswa biasa-biasa saja. Tapi...