Sebut saja ia ‘Mang Aca’, lelaki yang usianya sudah melebihi paruh baya. Ia adalah seorang pedagang sate. Eh, maaf, satai maksudnya. Bisa dijewer saya nanti oleh Ivan Lanin (penulis buku Recehan Bahasa). Sebab dalam KBBI, sate bukanlah bahasa baku, melainkan yang benar adalah satai. Mungkin karena satai sudah sangat identik dan khas dengan Madura. Sehingga umumnya masyarakat lebih familiar dengan sebutan ‘sate’. Bahkan ada saja guyonan yang kemudian diplesetkan jadi ‘te sate’ meniru cara berbicara logat Madura. Entahlah. Kembali lagi ke ‘Mang Aca’. Yup, Mang Aca ini asli orang Karawang (USA), beliau sudah berdagang satai ayam beserta lontong sedari usia muda. Mungkin sudah lebih dari 30 tahun lamanya. Itu terungkap saat kami berbincang ringan pada suatu malam kala saya menunggu satai pesanan saya sedang diproses. “Mang, jualan sate dari kapan emang?” Tanya saya kala itu mengawali obrolan “Wah. Dari masih muda juga udah jualan.” “Udah berapa puluh tahun sampe sekarang?” ...
Alkisah. Semalam, sekitar pukul 21:30 dalam perjalanan mengendarai kuda besi sehabis latihan futsal, di perjalanan pulang saya tak sengaja bertemu dengan badut (orang yang memakai pakaian ala badut) sedang berjalan dari arah bundaran 3 Citra Raya menuju ke depan, mungkin ke arah gerbang. Sontak saja ingatan saya langsung tertuju pada jagoan saya Ken, yang saat ini sedang berada di kampung. Ya, jagoan saya yang pertama itu sangat takut jika bertemu badut, diajak kenalan dan bersalaman pun dia enggan, malah teriak ‘jangan!’. Karena ingin menggoda sekaligus menciptakan kesan bahwa badut adalah teman, manusia biasa seperti kebanyakan, yang lucu sekaligus menghibur dan tidak menakutkan, akhirnya saya kepikiran ide ingin mengajak badut itu berfoto bersama untuk dikirimkan via Whatsapp. Karena sudah terlanjur melewati badut tersebut, akhirnya saya putar balik mendekati dan menunggu beberapa meter di depan jalur dia berjalan kaki. Setelah jaraknya dekat, badut itu saya panggil: “Bang,...
05-01-2017 - True Story - Alkisah, seminggu yang lalu, tepatnya di hari senin, jam sudah menunjukkan lampu kuning, maka segera setelah motor dinyalakan, langsung ngacir mengejar waktu masuk kantor agar tak telat parah sampai di kantor. Berangkatlah saya dengan tergesa sembari mengucap doa agar selamat di perjalanan. Sekilas melirik indikator bensin di motor, 'ah, masih dua strip. Sepertinya masih cukup untuk perjalanan pergi-pulang kantor. 'Lho, kok tinggal dua strip?' Sebab baru malam sebelumnya tangki motor diminumi bensin hingga tiga strip. 'Mungkin sempat digunakan adikku tadi malam, paling hanya terpakai sedikit saja,' pikirku. Bismillah, alhamdulillah tiba di kantor dengan selamat. Lumayan kepikiran di perjalanan Cikupa-Ciledug. Sekali lagi melirik indikator bensin, masih dua strip ternyata. 'Ah, aman.' Di waktu jeda istirahat kantor, iseng coba-coba cek isi tas dan dompet. What? Rupanya tak ada uang di sana. Hanya ada beberapa logam ...
Komentar
Posting Komentar