Lelaki itu bernama Dimas Tetap berangkat bukan untuk mencari emas Pagi hari ke sekolah ia bergegas Menjemput ilmu yang tak didapatkannya Dari ruang internet sungguh bernilai hampa Bagi garis hidup belum berpihak baik padanya Di sekolah ia hanya disambut kepala sekolah dan guru Tak ada kawan-kawan biasa membawa haru biru Sendiri berteman papan tulis dan buku-buku Rupanya pandemi menyisakan pilu Bagi banyak mereka yang tak mampu Dengan tabah harus memeras rindu Hanya bisa menikmati pendidikan lewat sebuah temu Ayahnya hanya seorang nelayan Ibunya buruh pengering ikan Gawai dan kuota terlampau mahal dibelikan Seliter beras lebih berharga di hadapan Melewati pelik masa pandemi entah sampai kapan Corona memang memaksa sebuah keadaan Aturan-aturan baru ikut diberlakukan Tapi pendidikan tak seharusnya menjadi ironi tragedi Bagi mereka yang datang membawa mimpi-mimpi #AnakHebat #DimasIbnuAlias
Sebut saja ia ‘Mang Aca’, lelaki yang usianya sudah melebihi paruh baya. Ia adalah seorang pedagang sate. Eh, maaf, satai maksudnya. Bisa dijewer saya nanti oleh Ivan Lanin (penulis buku Recehan Bahasa). Sebab dalam KBBI, sate bukanlah bahasa baku, melainkan yang benar adalah satai. Mungkin karena satai sudah sangat identik dan khas dengan Madura. Sehingga umumnya masyarakat lebih familiar dengan sebutan ‘sate’. Bahkan ada saja guyonan yang kemudian diplesetkan jadi ‘te sate’ meniru cara berbicara logat Madura. Entahlah. Kembali lagi ke ‘Mang Aca’. Yup, Mang Aca ini asli orang Karawang (USA), beliau sudah berdagang satai ayam beserta lontong sedari usia muda. Mungkin sudah lebih dari 30 tahun lamanya. Itu terungkap saat kami berbincang ringan pada suatu malam kala saya menunggu satai pesanan saya sedang diproses. “Mang, jualan sate dari kapan emang?” Tanya saya kala itu mengawali obrolan “Wah. Dari masih muda juga udah jualan.” “Udah berapa puluh tahun sampe sekarang?” ...
Adakah yang lebih menarik dari derik jangkrik? Bernyanyi sepanjang malam bersautan asyik Tak peduli siang tadi ditelanjangi terik Tiba-tiba datang membawa berisik Ah, Tuhan, Engkau memang terlalu baik Mengirimkan nyanyian rindu serdadu jangkrik Sebab di kota aku sudah jengah suara berisik Enigma negeri dan aneka rupa lancung politik
Komentar
Posting Komentar